Skip to content

Menunggu Kakek Pulang

September 17, 2010

Hujan deras masih mengguyur bumi, membasahi tanah-tanah kering, membasahi genteng-genteng rumah, juga membasahi genteng-genteng retak sebuah gubug yang ditempati seorang wanita tua bersama cucunya yang masih belum beranjak dewasa. Nek ijah itulah namanya, seorang nenek tua yang telah lama ditinggal mati anaknya . Kini ia hanya tinggal bersama suaminya, yang harus menghidupinya dan cucunya yang sangat ia sayangi digubugnya yang kecil.

Hujan masih turun dari langit dengan deras tidak menunjukkan pertanda reda. Nek ijah terduduk di atas tikar yang sudah bolong menanti hujan reda, sedangkan cucunya duduk dilahunan neneknya sambil sedikit-sedikit merengek “ nek…lapar!” sambil mengusap-ngusap kepala cucunya, nek ijah menjawab “iya sabar…! Tunggu sampai kakek datang, mungkin kakek terhalang hujan”. Nek ijah kembali mengusap-usap kepala cucunya. “nek… lapar…!” cucu nek ijah kembali merengek “iya…tunggu sebentar lagi hujan reda, kakek pasti segera datang” bujuk nek ijah kepada cucunya yang dari tadi duduk dipangkuannya “kamu mau makan apa cu?” nek ijah sengaja bertanya kepada cucunya agar ia sedikit bersabar. “aku mau makan daging ayam”

“o…iya…kamu udah lama gak makan daging ayam, iya…nanti kalo kakek sudah pulang, nenek mau minta di beliin daging ayam buat kamu ”

“bener nek…asyik…!”

“bener…tapi kamu mesti sabar ya!” nek ijah terus mengusap kepala cucunya dan sekali-sekali ia melihat ke arah jendela, berharap suaminya datang segera

“kapan hujannya reda nek?”

“sebentar lagi! Sabar ya! Cu..”

Hujan telah reda, membuat tanah-tanah menjadi lumpur-lumpur licin, yang dapat menjatuhkan orang-orang yang hilang keseimbangan. Nek ijah masih berada didalam gubugnya bersama cucunya. Menunggu suaminya yang telah lama pergi mencari sekantung beras. “nek…hujan sudah reda! Kok kakek belum datang juga?” si cucu memandang wajah nek ijah, namun nek ijah tidak berani balas memandang.“sabar ya cu…kakek mungkin masih di jalan, kita tumggu aja sebentar lagi”. Nek ijah melihat ke arah jendela yang menempel diatas kayu lapuk tertutup bilik-bilik lusuh. Ia menanti sang suami yang telah berjanji kan membawakan sekantung beras namun, sampai adzan ashar berkumandang pun ia tak jua kunjung pulang. Si cucu mulai memegang perutnya yang sakit ia rasakan “nek.. kakek lama sekali, aku sudah sangat lapar” mak ijah memandang wajah cucunya yang sudah pucat pasi namun nek ijah tetap tersenyum kepada cucunya “iya..sabar ya…cu, sebentar lagi kakek datang kok”Lebih baik kamu sekarang tiduran dulu! Eh… kamu belum mandi kan! Lebih baik kamu sekarang mandi dulu supaya badannya seger”.

Si cucu membangkitkan tubuhnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Nampaknya ia menyetujui saran dari neneknya, agar ia pergi mandi tuk menyegarkan tubuhnya yang mulai lemah karna tidak mendapatkan kabohidrat dari tadi pagi. “ sekalian wudhu cu… sudah ashar!” perintah mak ijah kepada cucunya. ” iya nek” si cucu berjalan ke kamar mandi sambil menggantungkan handuk lusuh dilehernya.

Sementara cucunya membersihkan diri, atau menyegarkan diri supaya tubuhnya yang lemas karna lapar dapat sedikit terobati, nek ijah tetap duduk di atas tikar bolongnya.Ia tetap menanti suami yang belum kunjung pulang ke rumah. Perasaannya sedikit cemas namun, segera hilang oleh cucunya yang baru selesai mandi. “ nek…aku sudah selesai. Nenek belum ke air?” nek ijah bangkit dari duduknya, sambil tersenyum ke arah cucunya “ iya nenek juga mau mandi. Kamu shalat aja duluan mukenanya kan Cuma ada satu”

“iya nek…”

“eh…nenek lupa, pinjam handuknya cu”.

Setelah nek ijah dan cucunya selesai mandi dan shalat, mereka kembali duduk bersama di atas tikar bolong. Si cucu seperti biasa duduk di atas pangkuan nek ijah, dan nek ijah selalu mengusap-usap kepalanya. “nek, hari sudah sore kok kakek belum pulang juga?” si cucu sekarang membaringkan tubuhnya di atas pangkuan neneknya “ kamu sudah lapar sekali ya cu…? Sabar ya, sebentar lagi kok, kakek pasti pulang” jawab nek ijah sambil pandangannya mengarah kearah jendela. “ besok kamu sekolah cu…” pertanyaan yang sengaja di buat nek ijah “ya… iya besok sekolah”

“gimana di sana, temen-temen kamu pada baik nggak?”

“kalo perempuannya sih pada baik tapi, kalo laki-laki nya suka ganggu”

“suka ganggu gimana cu?”

“mereka nakal-nakal nek, masa rok aku ama temen-temen lainnya suka diangkat-angkat, kan malu nek”

“anak nakal emang gitu, kamu laporin dong ama bu guru”

“udah… aku ma temen-temen pernah bilang ama bu rani, akhirnya mereka di hukum tapi, besoknya mereka tetep aja kayak gitu.”

Mereka terus mengobrol. Nampaknya, siasat sang nenek sedikit berhasil. Kini si cucu tidak lagi bangak bertanya akan kedatangan kakeknya. Ia sibuk menceritakan kisahnya di sekolah. “ nek tahu nggak ama enur?” tanya si cucu yang masih berbaring di atas pangkuan neneknya. “yang dulu datang kemari ama kamu bukan”

“iya…yang rambutnya panjang”

“iya nenek tahu emang kenapa cu…?”

“ dia baik sekali ama rani nek, suka neraktir jajan ama temen-temen, saya aja pernah dia jajanin baso markuf yang terkenal enaknya”

“oh…baik bener ya enur… kamu tahu nggak orang tuanya siapa?”

“ tahu nek, kan saya pernah ke rumah enur, rumahnya besaaar dech, kayak di film-film. Ibunya juga baik nek, saya ama temen-temen di kasih makanan yang enak-enak. Kalo bapak enur saya enggak tahu soalnya waktu ke rumah enur bapaknya nggak ada, katanya sih lagi ke kantor”

“iya…nah orang-orang kayak enur dan orang tuanya mesti kamu contoh. Nanti kalo kamu sudah besar harus jadi orang yang berhasil kayak orang tua enur kamu tidak boleh sombong dan mesti membantu orang lain yang susah”

Mereka terus mengobrol sampai waktu sedikit demi sedikit merubah warna langit. Mereka terus mengobrol sampai di hentikan oleh adzan magrig “ alhamdulilah… sudah magrib cu, kamu nggak ngaji ke mesjid?” tanya nek ijah sambil membangkitkan tubuh cucunya dari pangkuannya. “lemes nek lapar…” nek ijah bangkit dari duduknya seolah-olah tidak menghiraukan keluhan cucunya “nenek buatkan teh manis ya! Supaya kamu punya tenaga jadi, kamu bisa berangkat ngaji.”

Setelah si cucu mendapatkan sedikit tenaga dari teh manis yang dibuat nek ijah, ia pun pergi ke mesjid yang jaraknya tidak jauh dari gubug neneknya. Sedangkan nek ijah tetap berada di dalam gubugnya menanti suaminya yang belum juga pulang. Setelah ia shalat magrib ia duduk lagi di atas tikar bolongnya sambil memandang ke luar jendela berharap wajah suaminya Nampak di kedua matanya.

Nek ijah hanya diam duduk saja sendiri, tidak ada kegiatan yang ia lakukan. Memang apalah yang ia harus lakukan, pekerjaannya hanya memberesi rumah dan menanak nasi. Rumah sudah beres ia bersihkan, tinggal menanak nasi yang belum ia lakukan. Nek ijah mulai jenuh menunggu suaminya pulang. Tubuhnya mulai lemas karna lapar. Akhirnya ia membaringkan tubuhnya untuk sedikit menahan rasa laparnya. Dan akhirnya tanpa ia sadara ia pun tertidur.

Waktu terus berputar, waktu maghrib telah berlalu berganti waktu isa yang ditandai oleh kumandang adzan dari mesjid-mesjid. Nek ijah masih tertidur dengan pulas sampai cucunya pulang dari mesjid dan membangunkannya. “nek…nek… bangun nek! Pindah ke karma tidurnya! Di sini kan dingin” nek ijah terbangun sambil mengusap kedua matanya “ nenek ketiduran ya..!”

“ nenek kecapean mungkin, tidur aja lagi di kamar. “

“nenek lagi nunggu kakek.”
“ biar saya yang nunggu kakek. Nenek tidur aja nanti, kalo kakek sudah pulang saya bangunin.”

“ah…udah, tadi nenk ketiduran karna enggak ada temen sekarang kan kamu sudah pulang jadi, kita tggu kakek sama-sama aja.”

“ iya terserah nenek aja lah.”

Nek ijah kembali memangku cucunya, mulai kembali membuka obrolan agar waktu tidak terasa berjalan. “ belajar apa tadi di mesjid cu.” Tanya nek ijah sambil mengambil kutu di rambut cucunya. “ biasa aja nek, ngaji iqra”

“sudah sampai mana ngajinya?”nek ijah kembali bertanya sambil terus memburu kutu yang ada di rambut cucunya. “ juz lima, sebentar lagi ke juz enam”

“oh… bagus terusin ya cu… yang rajin supaya kamu jadi orang pinter enggak kayak nenek sama kakek.”

“ kakek masih lama nek?” si cucu mulai menguap. “sebentar lagi, kamu sudah ngantuk cu? Tidur aja, nanti kalo kakek datng nenek bangunin.”

“iya nek, tapi saya lapar.” Kata si cucu sambil memegang perutnya. “ mau nenek buatin the manis lagi?”

“boleh nek.”

Nek ijah berangkat ke dapur, membuat teh manis dengan banyak gula. Semakin manis teh yang di buat semakin besar pula tenaga yang akan didapatkan. Begitulah satu-satunya cara nek ijah mengatasi rasa lapar cucunya. “habiskan teh manisnya cu! Setelah itu kamu tidur aja.” Si cucu menghabiskan teh manis yang dibuat nek ijah kemudian ia memejamkan matanya, di atas pangkuan nek ijah. Nek ijah terus memburu kutu yang ada di rambut cucunya, sekali dapat kutu, ia langsung menaruhnya diatas utup rantang dan meninesnya.

Nek ijah masih menunggu suaminya, sambil tetap memangku cucunya yang tertidur lelap di atas pangkuannya. Sekali-kali ia melihat ke jendela yang menghubungkannya dengan keadaan di luar gubug. Nampaknya ia mulai cemas karna, suaminya tidak kunjung pulang.

Waktu telah menunjukkan pukul Sembilan malam, rasa kantuk nampaknya telah merasuki nek ijah. Rasa kantuk yang ia rasakan karna begitu lemah tubuhnya yang dari pagi belum diberi asupan karbohidrat. Sekali-kali nek ijah memejamkan matanya namun, ia tidak dapat mengantarkan pikirannya ke alam sebrang sebab, dia terlalu cemas memikirkan suaminya.

Waktu telah menunjukkan jam sepuluh malam, nek ijah masih terduduk memangku cucunya yang terbaring, tertidur lelap. Ia masih menunggu suaminya dengan setia. Dengan matanya yang mulai sayup, ia melihat ke arah jendela namun, orang yang ia tunggu dari tadi belum juga kelihatan batang hidungnya.

Waktu telah menunjukan setengah sebelas malam. Nek ijah benar-benar merasakan kantuknya. Ia memejamkan matanya namun dengan berusaha tetap menyadarkan pikirannya. Kitika nek ijah memejamkan matanya ia tersentak oleh suara suaminya. “assalmmualaikum….” Suami nek ijah masuk ke gubug kini, nek ijah bisa tersenyum dengan lega. “wa’alaikum salam….kenapa larut sekali sih pulangnya pak?” nek ijah langsur menyerang suaminya dengan pertanyaan. “tadi bapak di ajak pak kades ke luar kampong, Bantu ngurusin keluarga pak kades yang hajatan.” suami nek ijah menjelaskan sambil mematikan rokoknya. “cucu udah tidur bu?”

“udah dari tadi, kasihan ia belum makan dari tadi pagi.” Suami nek ijah merangkul cucunya dan menciumi pipinya dan kemudian membangunkan cucunya. “cu…kakek udah pulang, lihat! Kakek bawa banyak makanan buat kamu.” Si cucu mulai membuka matanya. “ini kakek bawa daging ayam, rendang, ama kentang goreng. Cepat makan cu…nanti dihabisin ama nenek kamu.” Nek ijah tersenyum melihat suaminya yang begitu menyayangi cucunya.

Nek ijah dan cucunya mulai makan, paha ayam diberiakn kepada cucunya. Mereka makan dengan lahap, maklum dari tadi pagi mereka hanya meminum teh manis. “kakek enggak ikut makan?” tanya si cucu sambil menggigit paha ayam. Suami nek ijah hanya tersenyum dan berkata “kakek udah makan tadi ma pak kades.”

“bapak kelihatannya senang sekali.” Tanya nek ijah sambil memasukkan rendang ke dalam mulutnya. “iya, bapak senang sekali sekarang bu, soalnya pak kades ngasih uang cukup besar sama bapak.”

“biasanya juga pak kades gitu, suka ngasih uang yang banyak ama kita, emang sekarang ngasih berapa.”

“seratus lima puluh ribu tapi, bukan itu aja yang membuat bapak senang.”

“apa sih pak, bikin penasaran aja” nek ijah mengerutkan keningnya sambil tetap terus memasukan makanan ke dalam mulutnya. “bapak di kasih kerjaan tetap di kantor desa selain itu, cucu kita akan dibiyayai pendidikannya.”

“masa pak! Syukur…alhamdulilah…” nek ijah merasa bahagia mendengar kabar dari suaminya. “mulai besok bapak enggak kerja serabutan lagi.”

“iya…syukur alhamdulillah… kapan bapak mulai kerja.” Suami nek ijah mulai menyalakan kembali rokoknya. “besok.”

“kalo gitu cepat tidur pak, biar enggak kesiangan besok.”

“ iya…sebentar lagi.”

Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam. Kini nek ijah dan cucunya, setelah makan dari makanan yang di bawa suaminya dapat tertidur dengan pulas. Rasa lapar dan cemas yang ia rasakan dari tadi pagi kini telah sirna berganti menjadi kebahagian.

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: