Skip to content

NGACAPRUK

September 17, 2010

Malam belum terlalu malam, bulan belum terlalu bulat, dan bintang masih bisa dihitung, belum memberikan kesan sunyi, senyep, sepi. Manusia masih kuat membelalakkan mata, seperti halnya tiga mahasiswa dalam sebuah kossan sempit, dengan wc sempit, dengan barang-barang; buku, reskuker, computer, lemari, gallon, kasur busa membuat kamar kossan semakin sempit. Mereka bertiga melawan malam, saling berkoar satu sama lain.

Aris si tuan rumah menyeduh kopi hitam kental, sebagai peneman rokok. Kopi dan rokok bagaikan perisai yang membentengi tubuh dari segala serangan. “ ris… jangan terlalu kental! Pahit” pinta madun, sambil melihat video dalam MP-4-nya. Entah video apa yang ia lihat. “ kalau kagak pait, bukan kopi “ jawab aris sambil mulai menyedot kopi pahitnya dengan mulut monyong. “ na! rokok mana?“ nana yang serius membuat makalah mulai memutar matanya, memandangi setiap sudut kamar. “ tuh rokok “ tunjuk nana kearah lemari kecil yang digunakan aris sebagai rak buku.

Oksigen-oksigen dalam kamar mulai tersedot oleh asap-asap rokok, membuat kamar layaknya terselimuti kabut putih ketika pagi menjaleng dipegunungan-pengunungan.Kabut-kabut pegunungan membutakan mata, menyegarkan hawa para penghirup angin-angin kesejukan. Asap rokok layaknya kabut membutakan mata tapi, menyesakkan hawa. “ aduh…perih! Dun, buka pintu!” keluh nana yang masih serius mengerjakan makalah yang harus ia serahkan besok hari, kepada dosennya yang entah perhatian karna sayang atau apalah, selalu memberikan tugas tambahan kepadanya.

Asap-asap yang layaknya kabut mulai surut terhempas angin-angin beroksigen. Mulai membuka hawa yang dari tadi terikat oleh atom-atom kecil yang melayang-layang masuk ke tenggorokan. Asap-asap yang layaknya kabut mulai surut tak menghalangi lagi cahaya, yang memantulkan beraneka warna dari benda-benda ke kornea pada mata.

Malam sudah setengah malam, bulan sudah setengah bulat, dan bintang mulai sukar tuk dihitung. Sudah sedikit memberikan kesan kesan sunyi, senyap, sepi. Membuat manusia mulai beterbangan menuju suatu alam ghaib. Tapi, tidak demikian halnya dengan tiga mahasiswa yang masih berkoar didalam kossan sempit dengan WC sempit, dengan barang-barang; buku, computer, reskuker, kasur, lemari membuat kamar kossan semakin sempit. Mereka terjaga karna pengaruh kafein yang terkandung dalam kopi yang mereka minum.

Malam mulai menggoda, memaksa manusia tuk takluk kepadanya. Menyebarkan angin-angin yang menusuk kesetiap pori-pori pada kulit. “dun…dingin, sory tutup pintu!” pinta nana kepada madun yang masih asyik menonton video pada MP-4-nya. “ tadi buka, sekarang tutup! Ganggu aja lho!” madun yang terasa terganggu oleh nana, karna tidak bisa konsentrasi kepada videonya. “beres, ngetiknya na?” Tanya aris yang mulai jenuh, sambil merebahkan badannya diatas kasur busa yang mulai menipis. “udah…beres” nana mulai memberesi buku-buku yang ia baca, dan ia transfer isinya ke dalam makalahnya. Aris bangun, kemudian menyalakan TV tuk menghilangkan kejenuhannya. Channel demi channel ia pilih namun, tidak ada satu pun yang menarik baginya. “ ah… ga’ ada film seru…!” keluh aris sambil mematikan kembali TV-nya. “ni…aku punya banyak film seru! Semuanya kisah nyata” celoteh madun, sambil tersenyum tipis. “dasar…beunget germo” nana angkat bicara, sambil berbaring diatas kasur busa tipis, yang seprainya terdapat banyak sekali gambar-gambar pulau. “udah…kita tidur aja!” nana kembali bicara, mengajak kedua temannya aris dan madun. “iya… tidur ajar ris…!” ajak madun kepada aris, sambil merebahkan tubuhnya di samping nana. Dan diikuti oleh aris yang juga merebahkan tubuhnya disamping nana. Sehingga, nana berada ditengah-tengah kedua temannya itu.

Hening mulai terasa didalam kamar kossan sempit dan ber-WC sempit. Ketiga mahasiswa yang berlindung didalamnya mencoba tuk menyebrang ke alam sebrang. Namun, pengaruh-pengaruh kafein dari kopi yang mereka minum menguasai mata. “aku kagak bisa tidur dun!” kata aris yang dari tadi berusaha memejamkan matanya. “sama ris, terlalu banyak minum kopi sih!” jawab madun, yang tidur terlentang sambil menekan-nekan jari jempolnya pada sebuah HP.

Hening mulai bertambah hening namun, ketiga mahasiswa tidak juga berhasil menyebrang ke alam sebrang kecuali nana yang sudah pulas tertidur. Bermacam cara mereka berdua lakukan tuk bisa menghilangkan kesadarannya. aris bolak-balik mengganti posisi tubuhnya namun tetap saja tidak berhasil. madun, membaca buku berharap matanya lelah namun, kafein yang terkandung dalam kofee buatan aris nampaknya telah memberikan kekuatan yang besar kepada mata madun . Aris yang dari tadi membolak-balikkan tubuhnya, akhirnya memilih posisi terlentang. Matanya memandang ke atas ke langit-langit kamar, mencoba mengosongkan pikirannya namun selalu saja nihil. Dalam pikirannya selalu terbayang khayalan-khayalan dari film-film yang ia tonton. “kalau saja ada dora emon” kata aris. “emang kenapa ris?” madun menutup bukunya seolah-olah menanggapi serius ocehan aris. “ya..enak aja. Kalau ada dora emon aku bisa minta alat yang bisa membuat orang tidur tepat waktu atua, minta dikeluarin pintu ajaib, supaya bisa pergi ketempat-tempat yang lebih nyaman, kagak kayak di sini ampek…!”

“iya ya ris! Kalau aja ada pintu ajaib, aku bisa keliling dunia, ke Hawaii lihat bule-bule pake kutang dari batok kelapa ha…ha…ha…”

“loe juga bisa keluar angkasa, nanti ketemu ma’ cewek-cewek planet Pluto kha…kha…kha…” aris dan madun tertawa terbahak-bahak, suaranya yang hanya bersaing dengan jangkrik terdengar keras sekali. “orang jepang pada hebat-hebat ya ris! Ada ultraman, satria baja hitam, dan sekarang ada naruto”

“ juga ada sincan dun!” mereka kembali tertawa terbahak-bahak membuat jangkrik-jangkrik terdiam karna merasa kalah dalam hal keras suara. “ kalau jepang ama amerika berperang siapa yang menang?” Tanya aris kepada madun “ siapa ya? Di amerika juga banyak jagoan-jagoannya; batman, spiderman, superman, X-man, semuanya pake ‘man’. Tapi menerut aku sich jepang tetep menang!”

“alasannya?” Tanya aris kembali “ sebab di jepang ada son goku, batman, superman, spiderman tinggal di khame-khame aja kha…kha…kha…”mereka kembali tertawa terbahak-bahak. Sekarang giliran bancet-bancet sawah yang terdiam.

Malam sudah semakin malam, bintang-bintang sudah bergerumun menghiasi langit, sukar tuk dihitung, dan bulan sudah terlihat bulat. Kesan sunyi, senyap, sepi telah nampak di penghujung malam. Membuat orang-orang enggan membuka matanya sampai langit kembali bersinar, sampai bulan berganti matahari, sampai angin-angin yang menusuk-nusuk kulit lenyap oleh kehangatan sinar matahari pagi. Tidak demikian halnya yang terjadi pada dua mahasiswa dalam kamar kossan sempit dan ber-WC sempit. Mereka tetap terjaga membuat alunan-alunan suara yang dikolaborasikan dengan suara jangkrik, bancet dan cecak-cecak yang menempel di dinding menanti nyamuk yang mendekatinya. “dun kita itu harus bangga lho jadi orang Indonesia” celoteh aris yang sudah lama bangkit dari kasur busanya yang mulai menipis. “bangga gimana ris?” tanya madun sambil mengeluarkan asap rokok yang ia hisap. “harus bangga dun! Sebab kita punya mak lampir. Kalau songoku yang dari jepang macem-macem, kita bilangin aja ama mak lampir, biar disantet tuh songoku”

“tapi, mak lampir gak bakalan berani nyantet josh bush”
Sekarang giliran madun yang berceloteh kepada aris. “lho kenapa gak berani?”

“ya! Gak bakalan beranilah…! Masa setan nyantet setan” mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak namun, tawa mereka berdua sekarang dikuti oleh bancet, jangkrik dan cicak-cicak di dinding yang sama ikut tertawa. “ berisik josh bush!” suara nana mengagetkan aris dan madun “ lho berdua juga setan kayak josh bush. berisik aja, ganggu orang tidur!”

“loe ngedengerin kita na? kirain dah tidur!” tanya aris sambil menyalakan rokoknya. “ gimana bisa tidur loe berdua berisik, ngelantur melulu”

“ bukan ngelantur na… tapi, berimajinasi! Dah bangun aja kita berimajinasi bareng” kata madun sambil tertawa namun tidak sekeras tawa sebelumnya. “ males…ah lhoe berdua bukannya berimajinasi tapi gilaaa!” jawab nana sambil membalikkan tubuhnya dan mencoba tuk tidur kembali. Aris dan madun hanya tersenyum melihat temannya marah kepada mereka berdua. Mereka seolah-olah tidak peduli terhadap keluhan nana yang merasa terganggu oleh suara-suara bising yang mereka keluarkan.

Malam semakin menjadi malam, bintang-bintang yang bergerumun saling mengeluarkan cahayanya. Begitupun bulan, yang telah Nampak bulatnya mengeluarkan cahaya dari pantulan sinar matahari. Hembusan-hembusan angin semakin menjadi, semakin menusuk-nusuk kulit. “ dingin banget ris! Dah jam berapa sekarang?”

“ jam tiga lebih lima belas menit” jawab aris sambil mematikan rokoknya “ dah kita tidur aja dun” ajak aris kepada madun sambil mulai membaringkan tubuhnya. “iya…aku juga sudah mulkai ngantuk” madun pun membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.

Gelap-gelap malam sedikit demi sedikit mulai memudar, bintang-bintang satu persatu menghilang, dan bulan hanya meninggalkan jejaknya diatas langit tapi, angina-angin masih terus melakukan serangan, menusuk-nusuki kulit.

Gelap telah memudar berganti terang dari sinar matahari pagi yang cahayanya menyebar kesegala penjuru. Bintang-bintang dilangit telah sirna berganti dengan burung-burung yang menari-nari di atas awan begitupun bulan, keindahannya diganti oleh keindahan langit biru. Angin-angin yang menusuk-nusuk kulit mulai terimbangi oleh hangatnya sinar matahari pagi. Lama semakin lama hialanglah angin yang menusuk-nusuk kulit dan hangatnya sinar mentari pagi pun menguasai hawa.
“ euy…bangun euy…kuliah”
“ehm….ngantuk na! izinin ajalah!”
“ehh….dasar lho, cepet bangun kuliah! Gue duluan.”

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: