Skip to content

Prosa Puisi

September 17, 2010

puisi pertama ku tulis saat pertama kali aku bertemu dengannya, saat ia duduk menyandar diatas bangku panjang, sambil asyik bercakap-cakap bersama teman-temannya. Ia mengenakan gamis pink dan rok pinك serta tidak ketinggalan memakai kerudung pink yang menutupi rambutnya, dan aku yakini sampai sekarang pastilah indah rambut yang tertutup kerudung itu.

Dia cantik, benar-benar mempesona. Dari kejauhan kupandangi ia, kulihat wajahnya yang berkulit putih bersih, dengan hidung bangir, mata hitam bening, dan bibir tipis merah. Pipinya memang agak temben dan kepalanya bulat tapi, itu malah makin memperindah wujudnya.

Wajahnya yang berkulit bersih memancarkan cahaya, sungguh ia telah menyaingi surya. Hidungnya yang bangir Nampak manis menempel di wajahnya. Matanya, tatapan matanya, sungguh berkilauan layaknya bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Dan bibirnya yang tipis dan merah sudah tak tergambarkan lagi dalam kata-kata.

Aku bertanya siapakah ia? Satu-satunya wanita yang membuat aku gila pada pandangan pertama. Adakah ia manusia? Jika ia manusia dari tanah jenis apakah ia tercipta? Pertanyaan gila, ya! Memang aku telah gila, aku gila oleh cinta, yang aku ambil sendiri darinya.

Ia bangkit dari duduknya dan pergi, menyontakkanku yang dari tadi memandanginya. Entah sadarkah ia atua tidak akan kehadiranku, aku tidak tahu. Akankah aku bertemu lagi dengannya, aku tidak tahu. Begitulah pikiranku pada waktu itu.

Kini hatiku berdebar kencang. Dalam bayanganku selalu tergambar wajahnya walaupun, sebentar saja aku memandangnya namun, nampaknya cahaya yang memancar diwajahnya telah memberikan bekas yang kuat dimataku. Lama semakin lama bayangan wajahnya bukan menghilang tapi, malah semakin jelas dalam bayanganku. Aku sungguh tidak mengerti, apa ini?

Aku sungguh tersiksa, sungguh wanita itu telah menyiksaku tapi, aneh tak sedikit pun aku keberatan mendapatkan siksaan ini. Walaupun kini pikiranku telah dipenuhi oleh wajahnya. Namun tidak mungkin pikiranku harus selalu menampung wajahnya، maka wajahnya ku gambar melalui untaian kata-kata.

Tak sanggup mata ini melihat

Sebuah kreasi Tuhan

Yang terwujud dalam ujudmu

Kau indah,

Mempesona,

Adakah kau tercipta dari cahaya?

Atau tanah?

Lantas, dari tanah apakah kau tercipta?

Puji dan syukur hanya milik Tuhan

Tapi aku memujimu

Tidak,

Tidak aku jadikan kau berhala

Salahkah aku?

Terpesona oleh ciptaan Tuhan

***

Puisi kedua ku tulis setelah seminggu aku tidak bertemu kembali dengannya. Aku kunjungi tempat pertama kali aku melihatnya namun tidak jua aku bertemu dengannya. Seharusnya ia kembali kesini, atuakah ia hanya sekali berkunjung? Pertanyaan demi pertanyaan keluar dalam pikiranku namun, tidak satu pun yang dapat aku jawab.

Sekarang aku celaka, nampaknya aku telah terkena racun. Pikiranku menjadi ling-lung. Tak tahu harus bagaimana aku. nampaknya, ia adalah racun sekaligus penawarnya. Racun telah menyerang tubuhku tapi penawarnya belum juga kudapatkan.

Hari demi hari kulalui sambil terus kucari penawarku. Kutanyakan ke setiap penjuru angin, kutanyakan kepada angin barat, tak tahulah ia. Kutanyakan kepada angin timur, tak tahulah ia. Kutanyakan kepada angin utara, tak tahulah ia. Kutanyakan kepada angin selatan, tak tahu pula ia. Haruskah aku tanyakan kepada samudra? Tapi, angin pasti telah memberitahukan kepada samudra.

Kini aku hanya bisa terdiam, menunggu kabar dari angin teman karibku. Hanya ia yang dapat ku percaya, hanya ia yang dapat ku andalkan. Tak perlu kau tergesa-gesa dalam mencari penawarku, biarlah racun ini menyebar kedalam seluruh tubuhku selama aku tidak mati olehnya.

Lama wujudmu sirna

Tapi, bayangmu telah terlukis dalam jiwa

Dimanakah kau berada?

Adakah penantianku sia-sia?

Adakah kau telah sirna

Menghilang dari dunia

Penjuru angin ku tanya

Tapi, tak ada yang berkata-kata

Pada rembulan ingin aku bertanya

Tapi, malu aku padanya

Sebab aku mencampakkannya

Adakah angin tahu?

Kucampakkan bulan

Karna ia lebih bercahayanya darinya

Ku tulis puisi untuknya

Beribu-ribu puisi untuknya

Pada daun kering

Yang berserakan

Hei…angin

Sebarkanlah!

Sebarkanlah!

Puisiku

Agar ia tahu

Bahwasanya aku teracuninya

***

Puisi ketiga ku tulis, ketika angin datang kepadaku memberikan kabar tentangnya. Ia bercerita bahwasanya ia bertemu dengan penawar racunku. Keadaannya sangat memprihatinkan lebih memprihatinkan dariku. Aku bertanya pada angin apakah ia sakit? Ya, ia sakit dan penyakitnya sama dengan penyakitku yaitu, ia telah terkena racun yang sudah menjalar hebat ke dalam hatinya. Aku kembali bertanya, apakah aku adalah penawarnya? Tapi, dengan desir-desirnya angin menjawab bahwasanya adalah pemuda lain yang telah meracuninya dan ia pula penawarnya.

Aku terkejut mendengar jawaban dari angin. Tubuhku rasanya terbakar entah dari mana api datangnya tapi, panasnya sangat terasa dalam tubuhku. Sungguh aku sangat kecewa, bagaimana aku dapat meminta penawar racun pada orang yang teracuni.

Tak tahu harus bagaimana aku kini, bulan menertawakanku. Haruskah aku menangis? Tapi, bukankah sebuah aib bagi pemuda untuk menangis. Atau menjerit saja, agar semua orang tahu betapa sakitnya aku. Tapi, pita suaraku kecil bukankah, akan sangat lucu jika aku menjerit. Tapi, bukankah menangis tidak akan menjadi aib, dan menjerit dengan pita suaraku yang kecil tidak akan Nampak lucu kalau tanpa ada suara. Lalu bagaimana menangis dan menjerit tanpa suara itu? Menulis, ya menulis.

Kini aku banci

Yang takut menangis

Kini aku banci

Yang takut menjerit

Aku malu menangis

Aku malu menjerit

Aku malu pada bulan

Yang telah kucampakkan

Bulan tertawa terbahak-bahak

Menertawakan kemalanganku

Racun-racun semakin menyebar

Memakan daging,

Yang menempel ditulangku

Kemanakah ku cari penawar

Adakah Tuhan menciptakan penawar

Dapatkah orang sakit,

Menyembuhkan orang sakit

Celaka…

Celakalah aku

Jika Tuhan tidak menolongku

Sungguh,

Hanya  Dia harapanku

***

Puisi keempatku ku tulis, saat angin kembali mengunjungiku, memberikan kabar baru mengenai penawar racunku. Ia berkata bahwasanya ia telah bertemu kembali dengan penawar racunku. Ia berbicara panjang lebar mengenai nasib yang menimpanya. Namun, tidak begitu bahagia aku mendengar cerita angin. Kemudian angin kembali mengeluarkan suaranya melalui desir-desir yang ia buat, ia berkata kembali bahwasanya ia telah menceritakan perihal aku.

Angin berkata bahwasanya ia menceritakan perihal ku padanya. Aku mulai tertarik mendengar cerita angin. Angin melanjutkan pembicaraannya yang menggunakan bahasa desir-desir. Ia berkata ketika aku menceritakan perihal mu padanya, ia menganggap mu sebagai orang yang senasib dengannya. Kini ia berharap bisa bertemu denganmu semoga saja dengan pertemuan ini kau bisa mendapatkan penawar darinya. Sungguh mulia wanita itu, angin kembali melanjutkan perkataannya, seolah-olah hanya ia lah yang berhak mendapatkan nasib.

Angin segera pergi meninggalkanku setelah ia memberitahukanku tempat yang harus aku datangi agar aku dapat bertemu dengannya. Sungguh, kini harapan telah tumbuh kembali dalam diriku. Lesu yang kurasakan kini berganti menjadi gairah dan, bulan kembali cemberut kepadaku.

Terasa lama aku menunggu, waktu seolah-olah melambatkan putarannya. Tak sabar aku, sungguh tak sabar menunggu waktu. Kegerakkan kakiku untuk sedikit mengurangi kesabaranku.

Kemarau berlalu

Berganti hujan

Menumbuhkan bibit-bibit kering

Tumbuh menjadi harapan

Harapan bersemi

Di hati-hati keras

Masihkah hati membatu

Harapan mekar

Layaknya mawar

Memberikan keindahan pada penglihatan

***

Puisi ke lima ku tulis ketika aku berangkat ke tempat yang telah diberitahukan angina kepadaku, untuk bertemu penawar racunku. Dalam perjalanan perasaanku sangat gelisah, tegang, dan entahlah aku tidak mengerti. Sempat aku berfikir,  apa yang harus aku lakukan di sana, apa yang harus aku katakana padanya, apakah ia akan bersikap ramah padaku atau sebaliknya. Semua fikiran itu keluar dengan sendirinya sampai-sampai aku lelah mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri.

Aku terus berjalan mennyusuri jalan yang menuju ke tempat yang aku tuju. Setiap satu kali aku melangkah, jantungku berdetak kencang. Sungguh aku kewalahan, ingin rasanya racun yang ada dalam tubuhku ini segera menghilang.

Sungguh aku kacau

Olehmu

Sungguh aku merana

Olehmu

Tanpamu,

Akankah aku berjalan dengan tegak?

Sungguh

Kau adalah racun,

Yang termanis

Setiap yang melihatmu

Haruslah memilikimu

Jika tidak,

Hancurlah ia

Jika tidak,

Matilah ia

Akankah aku hancur

Akankah aku mati

Tinggal ketukan palu,

Yang kutunggu

***

Puisi ke enam ku tulis saat aku bertemu dengannya, di sebuah tempat yang telah dijanjikan. Waktu itu aku datang lebih awal darinya. Dan ketika aku menunggu tiba-tiba ada sebuah pancaran cahaya yang datang kepadaku, ternyata itu dia, penawar racunku yang sudah lama aku cari. Sungguh itu dia, aku tidak akan salah sebab, wajahnya telah tergambar dalam tempurungku.

Ia datang kepadaku, sedangkan jarak antara aku dengannya hanya satu meter sungguh mataku terpaku oleh pancaran sinar yang ada di wajahnya. Tubuhku bergetar, lidahku kaku, sedangkan kakiku menancap ke bumi. Apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar tidak tahu, saat itu yang aku inginkan adalah terus menatap wajahnya yang bersinar.

Aku kembali terperanjat ketika ia tersenyum kepadaku, dan berkata kepadaku. Kenapa kamu hanya terdiam saja tidak mengeluarkan kata-kata. Tapi, sungguh lidahku benar-benar kaku. Tapi, aku mencoba memaksakan diri mengeluarkan sedikit demi sedikit suara kemudian, suara itu sedikit-demi sedikit menjadi bunyi yang bermakna. Haruskah aku berbicara sedangkan kau sangat mempesona. Ia kembali tersenyum kepadaku kemudian ia kembali berkata. Apakah kau adalah pemuda yang diceritakan angin kepadaku. Aku menjawabnya ya, akulah pemuda itu. Kemudian ia kembali berkata, aku berkata kepada angin tidak boleh ada orang yang menderita seperti aku. Sekarang kau menderita karna aku maka, aku akan menghilangkan penderitaaanmu, apakah kau tahu akan hal itu. Aku menjawab ya, angin telah memberitahuku.

Setelah ia berbicara ia kemudian duduk diatas sebuah batu yang cukup besar. Entah apa yang ia pikirkan. Kemudian ia bangkit dan berkata kepadaku, hai pemuda perhatikanlah aku dan jangan kau sekali-kali lengah dariku, aku akan memberikan penawar racun yang menyerang dirimu. Aku menuruti perintah darinya aku duduk dengan pandangan fokus kepadanya. Dan tiba-tiba ia menunjukkan sesuatu yang sangat memuakkan, dan sangat menjijikkan. Sungguh ingin aku memalingkan wajahku darinya.

Setelah ia memperlihatkan kepadaku hal yang sangat memuakkan dan menjijikan ia kembali berkata kepadaku, apakah racun yang ada dalam tubuhmu telah hilang. Aku tidak tahu harus menjawab apa, sekarang aku mulai muak kepadanya. Cahaya yang menyinari wajahnya telah hilang berganti hitam gelap. Aku ingin pergi saja meninggalkanmu, sekarang aku sangat muak kepadamu. Ketiaka aku mengucapkan perkataan itu, ia malah tersenyum, tidak ada tanda-tanda kekesalan padaku. Sungguh aku tidak mengerti.

Cahayanya pudar

Menjadi gelap

Entah apa

Yang ia lakukan

Wujudnya semakin jauh dariku

Tak ada penyesalan dariku

Wujudnya yang terlukis,

Dalam pikiranku

Telah memudar

Tanpa sisa

Tanpa arti

***

Setelah pertemuan itu aku kembali beraktivitas seperti biasanya. Beban-beban yang dulu aku rasakan kini telah hilang. Tak lama berselang angin datang kembali kepadaku kemudian ia bertanya kepadaku, bagaimana pertemuanmu kemarin. Aku menjawab, aku tertipu oleh wanita itu. pada awalnya, wajahnya mengeluarkan cahaya namun, setelah ia melakukan hal yang memuakkan, dan menjijikan tepat didepan kedua mataku aku menjadi jijik kepadanya. Rasa yang dulu aku rasakan kepadanya sirna sudah dalam hitungan detik.

Angin dengan desar-desirnya berkata, sungguh wanita itu sangat mulia, ia telah mengeluarkan racun yang ada pada dirimu walaupun ia mengorbankan harga dirinya. Bukankah telah aku katakan, ia akan menghilangkan racun yang ada dalam dirimu, dan sekarang nampaknya telah hilang racun itu dalam dirimu.

Setelah angin berkata dengan panjang lebar ia langsung pergi meninggalkanku, yang mulai menyadari kemulian wanita itu.

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: