Skip to content

RANI

September 17, 2010

Seorang perempuan berjalan diatas trotoar sambil mengais anak laki-lakinya dengan samping butut. Nampak di wajahnya yang dicucuri keringat suatu kegelisahan. Kegelisahan yang selalu ia dapatkan setelah kematian suaminya, satu-satunya orang yang selalu menyalakan suluh-suluh dirumahnya. Rani itulah namanya, seorang ibu muda berusia 30 tahun namun, Nampak lebih tua dari usia aslinya. Demikianlah keadaan ibu muda tersebut bukan karena cuaca alam yang tidak mendukung kulit ditubuhnya tapi, lebih dikarnakan oleh pikirannya yang mencari jalan untuk menyelesaikan kegelisahannya.

Anaknya masih dalam kandungan ketika ditinggal mati suami tercintanya. Sekarang anaknya sudah berumur empat tahun namun, ia layaknya anak usia bulanan masih harus digendong ibunya. Memang anak rani tidak seperti anak-anak pada umumnya, yang biasa berlari sambil tertawa-tawa di sebuah lapangan luas. Tidak bagi dia, setiap hari ia harus ikut dengan ibunya menyerap sinar matahari secara berlebihan. Bukan tak ingin rani melihat anaknya tersenyum gembira seperti anak-anak pada umumnya namun, apalah daya anaknya jangankan berlari mengejar temannya, berjalan atau sekedar merangkak pun ia tidak bisa. Karna itulah rani selalu membawa anaknya yang sangat ia kasihi kemana pun ia pergi bahkan, ketika rani mengerjakan pekerjaan yang dianggapnya hina. Ya! Hina begitulah anggapannya, ia harus menjual harga dirinya demi anaknya yang ia sayangi. Rani mengemis demi mendapatkan sesuap nasi bagi anaknya.

Rani masih terus berjalan menelusuri trotoar, menghadap kepada setiap orang yang ia temui, mengulurkan tangan keringnya meminta sedikit recehan tuk menyelesaikan kegelisahannya. Sedikit demi sedikit recehan yang ia terima dikumpulkannya, dan ditukarkannya menjadi sebungkus nasi. Sebungkus nasi dengan lauk tempe tahu sudah cukup bergizi bagi rani dan anaknya.

Mata rani menerawang ke setiap sudut-sudut mencari gedung-gedung tinggi atau pohon-pohon rindang yang bisa menghalau sinar matahari yang membakar kulitnya. Akhirnya, rani menemukan sebuah gedung tinggi, yang saking tingginya, sinar matahari terpental tak bisa menembus beton-beton tebal dari gedung tersebut. Rani berjalan sambil mengais anaknya menuju gedung tersebut. Kemudian mendudukkan dirinya di tembok semen yang dibuat sebagai pot-pot tanaman di pinggir-pinggir gedung. Rani membuka bungkus penawar kegelisahannya dan mulai menyuapi anaknya yang berperut buncit dengan jari-jarinya yang kasar. Nampak kesedihan yang mendalam diwajahnya tatkala memandang anaknya yang nampak tidak seperti anak-anak pada umumnya. Dilihatnya tubuhnya yang kurus dengan buncit di perut, tangan dan kakinya yang kering kerontang, dan mukanya yang cekung. Hati rani bertambah pedih, ketika seorang dokter di PUSKESMAS menvonis anaknya dengan suatu penyakit yang cukup kronis.

Rani kembali menyuapi anaknya namun, dengan mata yang kosong. Nampak pikirannya sedang melayang kemasa lampau bersama suaminya yang sangat ia cintai. Begilah cara rani mencari kebahagian dengan kembali menerawang ke masa-masa indah bersama suaminya. Masih teringat dengan jelas dalam bayangan rani, suaminya yang begitu ia cintai. Tak pernah ia merasa disakiti atau dikecewakan oleh suaminya walaupun, selama hidupnya ia hanya makan nasi-nasi berkutu yang dijual di warung-warung dengan harga miring tapi, ia selalu bahagia sebab, suaminya selalu memberikan lauk lauk yang istimewa yaitu cinta.

Suami rani adalah seorang pemuda yang pekerja keras, bertanggung jawab, jujur, dan penyabar. Walaupun hidup selalu menebarkan duri-duri di sepanjang jalan yang ia tapaki namun, ia tetap melangkah, menyingkirkan sedikit demi sedikit duri-duri yang menghalanginya. Pernah suatu hari ketika suami rani mengayuh pedal becaknya, suatu pekerjaan yang suami rani lakukan untuk membeli beras berkutu. Ia mendapatkan seorang penumpang, seorang penumpang perempuan setengah baya yang mengenakan baju gamis berwarna pink tua, dengan klom berhak tinggi, dan tas hitam yang selalu ia tenteng dengan tangan kirinya. Andaikan rani yang mengenakan pakean tersebut tentu akan cantiklah ia. Begitulah bayangan yang ada dalam tempurung suami rani. Namun, jangankan membelikan rani pakean mahal, sekedar membelikan nasi padang dengan rendang khasnya yang diinginkan jabang bayi rani, ia sudah kewalahan.

Suami rani mulai mengayuh pedal becaknya dengan sekuat tenaga mengantarkan perempuan setengah baya tersebut ke alamat yang ia tuju. Urat-urat tangan dan kakinya mulai Nampak kelihatan, menandakan beratnya beban yang harus ia dorong. Keringat-keringat bercucuran di seluruh tubuhnya, menjadi perisai dari panasnya terik terik matahari. Suami rani membelokkan becaknya memasuki sebuah komplek perumahan. Di sepanjang jalan terlihat olehnya rumah-rumah besar bertingkat dengan halaman depan yang luas berisikan tanaman-tanaman hias. Pagar-pagar menjulang tinggi membentengi setiap rumah, menahan setiap orang yang ingin masuk kedalamnya. Dengan satu isyarat dari perempuan setengah baya, suami rani menghentikan becaknya persis di depan rumah besar ala eropa yang dipagari teralis-teralis besi yang menjulang tinggi keatas. Dalam matanya terlihat kekaguman akan rumah nan megah itu. Rumah yang mungkin dua puluh kali lipat lebih besar dari rumahnya. Suami rani memasuki alam khayalannya, membayangkan ia bersama rani tinggal di rumuh itu. Ia duduk di kursi teras halaman sambil membaca Koran dengan satu cangkir kopi di meja, sedangkan rani asyik menyirami tanaman-tanaman hias kesayangannya yang ia tata dengan rapi di sekitar halaman-halaman rumahnya. Belum selesai suami rani berkhayal tapi, ia sudah dikejutkan oleh suara perempuan setengah baya yang menyodorkan uang ongkos naik becaknya. Suami rani terkejut melihat uang yang diberikan perempuan setengah baya itu. 50.000 rupiah, perempuan setengah baya itu memberikan ongkos naik becak kepada suami rani tanpa meminta kembaliannya. Sungguh senang suami rani mendapatkan uang tersebut. Tanpa basa-basi ia meninggalkan rumah besar itu setelah sebelumnya ia ditinggal sendiri oleh perempuan setengah baya.

Suami rani mulai mengayuh kembali pedal becaknya namun, berbeda dengan ayuhan sebelumnya. Ayuhan sekarang lebih bernada, lebih berirama mengikuti aturan irama hatinya yang senang. Bukan kepalang senangnya hati suami rani, bagaimana tidak sebab jabang bayi yang ada diperut rani meminta makan di rumah makan padang. Suatu permintaan yang sulit dikabulkan suami rani. Tapi, sekarang sudah tidak demikian. Suami rani terus mengayuh pedal becaknyasampai di depan gubug yang ia jadikan istana. Ia menghentikan ayuhannya dan memakirkan becaknya persis di teras berlapis tanah. Lalu ia jungkirkan becaknya dan, terjatuhlah sebuah dompet berwarna coklat tua, dompet seorang perempuan. suami rani mengambil dan membuka dompet tersebut, dan seketika juga ia tercengang melihat jumlah uang yang ada didalam dompet tersebut. 2.500.000 rupiah cash, jumlah uang yang belum pernah ia pegang seumur hidupnya. Suami rani dengan hati gemetar membawa dompet itu kedalam rumah dan meperlihatkannya kepada rani yang sama terkejutnya. Rani menanyakan siapa pemilik uang tersebut. Diambillah KTP oleh suami rani yang sengaja diselipkan pemilik dompet disela-sela dompet. Dan ternyata sesuai perkiraannya, pemiliknya adalah perempuan setengah baya yang berbaik hati memberikan ongkos besar kepadanya. Suami rani dapat mengetahui hal tersebut sebab, foto dalam KTP terpampang wajah perempuan setengah baya yang tadi memakai becaknya.

Suami rani duduk disebuah kursi kayu panjang, menelentangkan tubuhnya. dilihatnya ke arah rani yang dari tadi melamun setelah melihat uang itu. Entah apa yang dipikirkan rani. dan dilihat pula perut rani yang berisi anaknya. Ia berfikir, haruskah dikembalikan uang itu kepada si perempuan setengah baya? Jangan dikembalikan! Kata hawa nafsunya, bukankah si perempuan setengah baya tidak akan tahu kalau ia menemukan dompet tersebut. Apalagi jumlah uang yang sangat besar tersebut bisa digunakannya untuk biaya persalinan istrinya. Namun, hati kecil suami rani kembali bergemuruh, bagaimana bisa ia membiayai persalinan anaknya dengan uang haram. Setelah berfikir panjang nampaknya suami rani memilih kata hati kecilnya. Ia harus mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya sekarang juga sebab, ia takut nafsunya dapat mengalahkan hati kecilnya. Akhirnya suami rani berpamit kepada rani, ia hendak ke rumah perempuan setengah baya untuk mengembalikan dompetnya. Maka diambillah becak oleh suami rani dan ditinggal sendiri rani digubugnya. Sebenarnya ingin sekali rani menghalangi suaminya, bukan karna jumlah uang itu yang besar tapi, perasaan rani mengatakan akan terjadi sesuatu pada suaminya. Namun apalah kuasa rani menghalangi suaminya lagi pula ia berfikir sama seperti suaminya, uang itu harus dikembalikan kepada pemiliknya walaupun, ia sangat membutuhkan uang tersebut.

Suami rani mengayuh pedal becaknya menapaki kembali jalan yang telah ia lalui bersama perempuan setengah baya yang telah menaiki becaknya dan meninggalkan dompetnya. Di sepanjang jalan, nafsu dan hati kecil suami rani terus bergemuruh. Nafsu suami rani berkata, pulanglah kembali! Gunakan uang itu untuk biaya persalinan istrimu. Tapi hati kecil suami rani juga berkata, jangan! Teruslah ayuh pedal becakmu! Jangan kau kotori tubuh suci anakmu dengan sesuatu yang haram!

Suami rani terus mengayuh pedal becaknya. Namun tiba-tiba ia berhenti, ia hendak membalikkan arah laju becaknya kembali kea rah rumahnya. Namun sekali lagi hati kecil suami rani berkata, apa yang kau pikirkan? Kembalikan uang itu! Tidak malukah kau, membiayai anakmu dengan uang haram! Sudah kembalikan saja uang itu! Ditengah perang batin itu akhirnya suami rani mendudukkan tubuhnya dibawah pohon, yang bayangan dari pohon itu dapat menghalangi teriknya sinar matahari. Nampaknya ia perlu waktu berfikir yang lebih lama.

Suami rani terduduk dibawah pohon mengusap keringat yang membasahi tubuhnya. Matanya menerawang ke atas langit namun, yang dilihat bukanlah awan tapi, rani yang berbadan buncit karna ulahnya. Ia kembali berfikir dengan keras haruskah ia mengambil uang itu? Namun dengan tiba-tiba bayangan rani berubah menjadi bayangan seorang perempuan tua, ia adalah perempuan yang telah memberikan susu tatkala ia menangis huas, ia adalah perempuan yang membersihkan tubuhnya dari kotoran-kotoran yang keluar dari tubuhnya, ia adalah perempuan yang mengajarkannya bagaimana ia berjalan, berbicara, dan tertawa. Bayangan perempuan tua itu semakin jelas dalam mata suami rani bahkan seolah-olah suami rani dapat berbicara dengannya “ apa yang harus saya lakukan bu?” dalam bayangan suami rani terdengar suara ibunya yang telah lama meninggalkannya “ nak, seberapa berat pun cobaan yang menerpa dirimu jalanilah sebagai berkah dari Tuhan-mu, janganlah sekali-kali menganggap Tuhan-mu meninggalkanmu sebab, Dia akan selalu ada. Ikutilah! Petunjuk-petunjuk yang telah Dia berikan.” Bayangan perempuan tua menghilang, dan meninggalkan cucuran-cucuran air mata yang membasahi wajah suami rani. Kemudian ia berkata dalam hatinya “ ya Allah! Bagaimana aku bisa lupa pada-Mu”

Suami rani menghapus air matanya kemudian kembali mengayuh pedal becaknya. Diayuhnya pedal becak dengan kencang memasuki sebuah gerbang perumahan. Dilaluinya rumah-rumah megah yang berjejeran di sepanjang jalan, sampai akhirnya ia menghentikan ayuhan pedal becaknya di sebuah rumah megah. Rumah megah si perempuan setengah baya. Ditekannya bel yang menempel di tembok pagar ru,ah nan megah itu. Cukup lama suami rani menunggu sampai akhirnya, seorang perempuan tua dating menghampiri suami rani tanpa membuka pintu gerbang ruah. “ ada apa mang?” si perempuan tua bertanya kepada suami dengan dihalangi pintu gerbang nan tinggi. Melalui celah-celah besar yang terdapat pada pintu gerbang itulah suara si perempuan tua dapat memasuk ke telinga suami rani. “yang punya rumah ada, mbok?”

“ oh…dah pergi dari tadi! Ada perlu apa mang?”

“ini mbok…tadi ada ibu yang naik becak saya, dompetnya ketinggalan. saya mau balikkin, ke mbok aja ya!” suami rani menyodorkan dompet coklah itu kepada si perempuan tua. Dengan sedikit penasaran si perempuan tua membuka dompet coklat itu dan melihat tanda pengenal yang ada dalam dompet tersebut. “ o…iya ini punyanya si ibu!”

“ bilang aja mbok, tadi ketinggalan di becak. Kalau gitu saya pamit dulu ya mbok” suami rani bergegas kembali hendak mengayuh kembali pedal becaknya. “ eh…tunggu dulu mang! Tunggu sampai si ibu datang, lebih baik mang sendiri yang ngembaliin!”

“ ah…ma’ mbok aja lah!”

“ kalo gitu saya minta nama sama alamat mang! Takut si ibu nanyain”

“ bilang aja tukang becak yang suka mangkal di pengkolan, yang tadi si ibu naik, bayar ongkosnya 50.000” jawab suami rani sambil meninggalkan perempuan tua yang terhalang gergang besar, mengayuh kembali pedal becaknya.

Pedal becak terus di ayuh oleh suami rani melintasi kembali jalan-jalan yang telah ia lalui sebelumnya. Dibelokkannya becak, keluar dari gerbang perumahan. Sekarang ia memasuki jalan raya, Jalan yang begitu sesak dengan kendaraan bermotor, yang mengeluarkan asap-asap knalpot, membuat semakin sesaklah setiap makhluk-makhluk bernapas. Sambil terus mengayuh pedal becaknya, sekali-kali ia pandangi kendaraan-kendaraan yang melaju dengan kencang disampingnya namun, ia tidak peduli dengan pengendara-pengendara yang menghilangkan kontrolnya dalam mengendarai kendaraannya. Dalam wajahnya tampak kelegaan, berbeda dengan sebelumnya, yang tegang karna harus berfikir dua kali tuk mengembalikan dompet coklat si perempuan setengah baya. Sekarang yang ia pikirkan adalah pulang ke rumah mengajak rani ke rumah makan padang, pake uang ongkos pemberian si perempuan setengah baya.

Hari menjelang sore, semakin kencang suami rani mengayuh pedal becaknya. Ia menyilap setiap kendaraan-kendaraan bermotor yang sedang berhenti di pinggir jalan. hendak menyiap kendaraan yang sedang melaju kencang, tak sangguplah ia. Awan mulai Nampak mendung, memberikan dugaan kepada setiap orang akan datangnya hujan. Suami rani mulai gelisah, sama halnya dengan pengendara kendaraan-kendaraan bermotor, ia kehilangan kontrolnya. Diayuhnya semakin kencang pedal becaknya. Di arah yang berlawanan, melaju dengan kencang sebuah mobil sedan, menyelip setiap kendaraan yang ada didepannya. Satu mobil terselip langsung gas di tancap. Awan gelap mulai menurunkan rintik-rintik hujan kecil di langit. Suami rani semakin gelisah, ia terus mengayuh pedal becaknya dengan kencang. Dilihatnya ke depan sebuah mobil berhenti di pinggir jalan, dibelokkanlah becaknya ke arah kiri. Dan pada waktu yang sama, mobil kijang dari arah yang berlawanan menyelip sebuah mobil dan akhirnya, bertubrukanlah mobil kijang itu dengan becak suami rani. Tubuh suami rani terpental, bergulingan di atas aspal panas sedangkan si pengendara mobil kijang melesatkan laju mobilnya meninggalkan suami rani yang terkapar di jalan aspal.

***

Rani terkejut, tangisan anaknya telah telah membuyarkan bayangan akan kenangan masa lalu bersama suaminya. Kenangan yang menghentikan tangan rani menyuapi mulut anaknya. Ya! Begitulah, rani memang rindu kenangan bersama suaminya. Ia rindu dibelai, ia rindu di manja, ia rindu ketika suami rani mengeluarkan kata-kata mesra dari mulutnya. Bagi rani betapa pun sulitnya hidup tetap terasa indah asalkan ada suaminya yang sangat ia cintai. Sekarang, suaminya telah tiada, hanya mewariskan kesedihan yang mendalam kepada rani. Ingin ia menyusul suaminya namun,ia teringat akan anaknya, yang satu-satunya alasan bagi rani untuk bertahan hidup, walaupun hidup dalam keadaan yang terhina. Yang rani fikirkan sekarang adalah bagaimana caranya supaya anaknya dapat selalu bernafas.

Rani mengemis, ia memasang wajah memelas kepada setiap orang yang ia temui. Bukannya ia tidak tahu diri, tidak tahu malu, menjual harga dirinya demi recehan-recehan yang dilemparkan orang-orang kedalam mangkok kecilnya tapi, itulah satu-satunya jalan bagi rani untuk memenuhi kebutuhannya dan anaknya. Pernah ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga namun, keadaan anaknya yang memprihatinkan membuatnya tidak dapat bekerja dengan benar. Rani memang mengemis namun, mengemis tidak membuat dirinya berleha-leha. Ia mengemis hanya ketika rongsokan-rongsokan yang ia kumpulkan belum mencapai standar untuk dijual. Sebenarnya rani bekerja sebagai tukang rongsokan namun, penghasilan dari pekerjaan itu kecil dan tidak menentu. Akhirnya rani mencari penghasilan tambahan agar kebutuihan anaknya dapat terpenuhi.

Awan mulai mendung, hawa panas yang membuat orang-orang kepayahan, sekarang berganti dengan angin-angin yang cukup kencang, menebarkan hawa-hawa dingin yang menusuk-nusuk ke kulit. Rani mulai mengais kembali anaknya dengan samping bututnya, bergegas pulang kegubugnya. Jalan-jalan mulai terlihat gelap, angin masuk ke setiap pori-pori kulit dan akhirnya, rintikan deras air hujan yang turun dari langit mulai membasahi setiap tempat yang tidak terlindungi. Rani berlari, berlari dari hujan lebat yang menyerangnya menuju sebuah gedung yang berteras besar. Teras besar yang atapnya dapat menghalau rintikan deras air hujan. Namun, angin-angin yang bertiup kencang tetap bisa menembus tubuhnya yang basah kuyup. Dilihat anaknya yang sama basah kuyupnya, bergemetar kedinginan. Lalu, rani memeluk anaknya dengan erat, menjadikan tubuhnya sebagai perisai penghalang dari gempuran angin.

Hujan yang semula deras, kini tinggal rintikan-rintikan kecil, kemudian rintikan-rintikan kecil pun tak tersisakan. Awan mendung yang menutupi pandangan telah pudar oleh sinar matahari sore. Cahaya-cahaya matahari kembali menerangi setiap benda, memantulkan segala warna, memantulkan segala bentuk ke kornea mata. Angin-angin kencang yang menusuk-nusuk kulit terkalahkan oleh hangatnya sinar matahari sore. Orang-orang mulai kembali memadati jalanan, melakukan kembali aktivitasnya yang telah tertahan oleh hujan deras berangin kencang. Begitupun rani, ia kembali menapaki jalan menuju gubugnya dengan tetap mendekap anaknya yang masih merasakan sakitnya tusukan-tusukan dari angin kencang yang menyerangnya. Pakean yang melekat pada badannya berangsur kering sedikit demi sedikit dengan panas sinar matahari sore. Namun, dipandanginya anaknya yang masih menggigil kedinginan nampaknya, sinar matahari sore tidak terlalu membantu anak rani. maka, rani memeluk anaknya semakin erat menyalurkan hawa panas dalam badanya kedalam tubuh anaknya.

Rani masih terus berjalan dengan tetap mendekap erat tubuh anaknya yang menggigil kedinginan. Langkah rani semakin cepat tatkala anaknya merintih oleh sakit yang ia rasakan. Dipandanginya kembali oleh rani anaknya yang wajahnya mulai pucat. Hati rani mulai gundah, langkah-langkah cepat yang ia lakukan pun menjadi lari-lari kecil. Ia terus berlari kecil, memasuki gang-gang sempit yang bersolokan kotor.

Rani memasuki gubug reyot yang telah lama ia tempati bersama anaknya. Gubug reyot peninggalan suaminya. Melihat anaknya yang pucat rani menjadi gelisah, ia membaringkan anaknya di atas kasur yang telah usang. Dipegangnya kening anaknya yang terasa sangat panas kemudian rani membawakan kain basah untuk mengkompres kepala anaknya.

Anak rani kepayahan, terdengar suara rintihan anaknya oleh rani yang begitu menyayat hatinya. Rani bergegas membawakan obat yang telah di belinya di warung untuk diminum anaknya sambil tetap mengompres kepala anaknya yang panas. Setelah cukup lama anak rani merengek kesakitan dan setelah anak rani meminum obat, akhirnya ia tertidur dengan pulas. Perasaan rani menjadi sedikit lega, akhirnya anaknya bisa sedikit menyingkirkan rasa sakitnya dengan cara tidur. Rani berbaring disamping anaknya sambil mengusap-usap kepala anaknya yang masih terasa panas samapai akhirnya, ia pun tertidur pulas.

matahari mulai menampakkan dirinya menggantikan bulan yang telah lama menemani rani bersama anaknya tertidur dengan pulas. Rani seperti biasanya sudah terbangun memberesi gubugnya yang mulai rapuh dimakan rayap. Sekali-sekali rani melihat anaknya yang masih tertidur pulas namun, tidak sempat ia sekedar mencium pipinya. Ia terlalu sibuk memberesi rumahnya dan menyalakan api dari suluh-suluh yang telah ia kumpulkan.

Dengan susah payah rani meniupi perapian, agar nasi berkutu yang ia beli bisa ia rubah menjadi bubur untuk sarapan anaknya. Nsai ini harus dijadikan bubur, agar gigi-gigi anaknya tidak kesakitan karna kerasnya nasi berkutu ini. Begitulah pikiran rani. Ia begitu menyayangi anaknya karna ia adalah satu-satunya orang yang selalu menemani rani setelah suaminya meninggalkannya. Dan ia pula satu-satunya orang yang menahan rani untuk mati.

Rani asik mengaduk-aduk bubur yang ia masak sambil melayangkan pikirannya ke masa lalu ketika suaminya masih bersamanya. Suatu kebiasaan yang selalu rani lakukan untuk mengobati rasa rindu kepada suaminya. Namun, pikirannya kembali buyar oleh tangisan anaknya. Rani segera menghampiri anaknya yang menangis cukup keras, dirangkulnya anaknya dengan tangannya yang berdebu. Dan ketika rani merangkulnya ia kembali terkejut sebab, panas badan anaknya semakin panas. Rani kembali membawakan kain basah yang digunakan sebagai kompres anaknya. Ia cemas melihat keadaan anaknya yang panas. Namun, bukan hanya itu yang ia cemaskan yaitu, tubuhnya yang semakin mengurus dan jeritan-jeritan yang keluar dari mulut anaknya karna rasa sakit yang ia rasakan.

Rani telah selesai memasak, dan ia mulai menyuapi anaknya dengan nasi berkutu. Setelah itu ia memberikan obat yang ia beli di warung terdekat. Rani sekarang kebingungan, ia harus bekerja, atau lebih tepatnya mengemis namun, keadaan anaknya yang sakit tidak memungkinkan untuk rani membawanya pergi mengemis apalagi, meninggalkannya sendirian di rumah. Dalam keadaan yang serba salah, akhirnya rani mulai mengumpulkan botol-botol aqua yang ia kumpulkan untuk ia jual. Botol-botol yang dengan susah payah ia kumpulkan sebenarnya adalah tabungan untuk membuka warung kecil di depan rumahnya namun, nampaknya rani sudah dapat firasat kalau ia akan lama sekali tidak pergi mengemis.

Rani telah menjual semua botol aquanya dengan hasil yang lumayan. Ia dapat membeli persedian beras dan obat untuk anaknya yang ia beli di apotek. Kini ia hanya dapat berdiam diri mengurusi anaknya yang sakit di rumah.

Malam telah tiba, anak rani yang dari tadi berada dipangkuan rani telah tertidur pulas. Rani segera membaringkan tubuh anaknya di atas kasur bututnya. Ia memegang jidad anaknya yang masih panas, kemudian ia kembali memberikan kompres. Melihat anaknya tertidur pulas rani mulai lega sebab, dari tadi siang anaknya menangis terus tidak henti-henti. Mungkin, anak rani tidak tahan merasakan sakit yang ia rasakan. Rani berbaring di samping anaknya sambil mengusap-usap kepalanya, sampai rasa kantuk menguasainya dan ia pun tertidur pulas bersama anaknya.

Cahaya Mentari pagi menerobos masuk ke celah-celah bilik kamar rani, membangunkan rani dari tidurnya. Rani pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya kemudian ia kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan anaknya. Dipegangnya kepala anaknya, ia merasa lega sebab panas yang menyerang tubuh anaknya telah hilang.

Rani mulai kembali memasak nasi untuk sarapan anaknya. Ia mulai dengan biasa, menyalakan suluh pada tungku kecilnya. Setelah api tungku menyala rani meletakkan panic yang berisi beras diatasnya. Sambil menunggu nasinya masak rani memberesi rumahnya, ia menyapu rumah sambil sekali-kali ia melihat anaknya yang tertidur pulas sekali.

Nasi telah masak, rani segera membawa nasi yang ditambah telur asin sebagai lauknya kepada anaknya. Namun, ketika rani masuk kamar ia melihat anaknya masih tertidur dengan pulas. Rani merasa heran, biasanya jam sekarang ini anaknya sudah terbangun. Akhirnya rani mendekati anaknya, ia kaget melihat wajah anaknya yang pucat kemudian, dengan perasaan yang berdebar rani memegang tangan anaknya, dan seketika piring yang digunakan sebagaia wadah nasi terjatuh ke lantai. Rani terkejut sekali ternyata anak yang sangat ia sayangi, satu-satunya orang yang menemaninya kini telah meninggalkannya.

Rani menangis dengan sangat keras, dipeluk anaknya itu dengan erat, diciuminya, dan diusap-usap wajahnya. Rani sangat merasa kehilangan kini, ia sebatang kara tidak ada lagi yang tersisa dari keluarganya. Tetangga-tetangga yang mendengar tangisan rani yang keras segera masuk ke dalam rumah rani untuk mengetahui musibah apalagi yang menimpanya.

Jenazah anak rani segera diurusi, dan di bawa ke pemakaman umum dengan diantar oleh rani beserta masyarakat setempat. Ia dimakamkan di pinggir makam ayahnya. Kini kenangan rani telah tersimpan di dua makam orang yang ia sayangi.

From → cerpen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: